Hijaunya Papua Membuat Rasa Penasaran untuk Menjelajahinya

“Nduk, nanti kalau kamu sudah besar dan bekerja, tidak usahlah pilih-pilih tempat kerja.”

“Maksudnya Pak?”

“Ya kamu bisa ngajar di mana saja, termasuk di Indonesia bagian timur seperti Papua. Bapak malah senang kalau kamu punya banyak pengalaman.”

“Memangnya di sana ada apa Pak?” 

“Banyak. Kamu bisa belajar arti hidup yang sesungguhnya, berkelana di alam bebas, lihat hutan dan sumber daya alam yang melimpah.” 

***

Percakapan di atas masih saya ingat sekali ketika waktu wisuda akan segera tiba. Saya memang kuliah di jurusan keguruan yang nantinya akan bekerja sebagai guru. Dan lagi-lagi, ayah saya mendukung setiap keputusan yang saya ambil untuk menjadi apa dan bekerja di mana saja. 

Sama halnya ketika lulus kuliah dan mencari kerja. Saya pernah ikut test CPNS dan memilih untuk menjadi guru di Papua sana. Namun nasib berkata lain karena ternyata saya tidak lolos test. Malah teman saya dari jurusan berbeda diterima di salah satu kantor pemerintahan di Papua. Tapi tidak apa-apa, meski tak bisa menginjakkan kaki di sana, saya tetap berdoa semoga suatu saat bisa melihat dan merasakan langsung kondisi di Papua yang konon kaya akan bahan tambangnya itu.

Cita-cita untuk menjadi guru sudah tercapai, kini saya adalah seorang guru SD di sebuah sekolah swasta di daerah Bekasi. Tapi keinginan saya untuk bertandang ke Papua tak pernah surut. Seandainya diberikan kesempatan, saya ingin sekali melakukan aktivitas atau hal-hal yang menyenangkan di sana.

Papua Destinasi Wisata Hijau

Berbicara mengenai keindahan di bumi Cendrawasih ini memang tak pernah ada habisnya. Papua memang menjadi salah satu destinasi wisata dan edukasi terkenal yang ada di Indonesia. Apalagi jika dilihat dari berbagai kekayaan dan sumber daya alam yang ada di sana. Hijau, adalah warna yang patut disematkan kepada daerah Indonesia paling timur ini.

Mengapa Papua disebut sebagai tempat destinasi wisata hijau?

Karena Papua adalah provinsi terluas yang terletak di bagian tengah pulau Papua dengan jumlah penduduk sekitar 3,9 juta jiwa. Luas wilayah kurang lebih 32,0 juta hektar dimana 30,0 juta hektar berupa hutan dan 0,3 juta hektar adalah lahan gambut. [1]

Dari luas hutan di atas sudah tentu pesona hutan di Papua sangatlah istimewa. Yang menjadikan hutan ini menjadi hutan rimba yang paling luas, karena sebelumnya Kalimantan dan Sumatera sudah terdampak deforestasi hutan. Tak hanya karena rimbanya yang masih banyak dan hijau, Papua menjadi surga kecil bagi penggemar wisata alam karena tidak hanya keelokan daratan yang ditawarkan, keindahan lautan dan alam bawah lautnya yang tak kalah menarik.

Julukan hijau ini saya rasa memang cocok untuk Papua, banyaknya hutan yang belum terjamah, hutan mangrove yang tetap tumbuh subur, kearifan lokal yang masih menggunakan bahan alam untuk pemenuhan kebutuhan, serta hamparan perairan yang jernih dan berkilau-kilau bila terkena sinar matahari.

Di sana ada alam yang masih hijau dan patut untuk dikunjungi. Keinginan saya untuk melakukan aktivitas seru pun semakin menjadi-jadi. Apalagi tersiar kabar keindahan Raja Ampat yang sudah tersebar luas di linimasa media sosial.

Raja Ampat Surganya Biota Laut

Menurut laporan dari The Nature Conservancy, sebanyak 75% spesies laut dunia ditemukan di perairan Raja Ampat. Wow betapa banyaknya biota yang ada di sana sehingga bila kita menyelam bisa melihat sisi lain Papua yang terkenal dengan hijaunya pariwisatanya.

source:https://kumparan.com/balleonews

Di Raja Ampat juga ada yang namanya Puncak Yelbef atau biasanya disebut Puncak Beo. Puncak ini berada pada ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut atau berada di dalam kawasan Desa Beo Distrik Tiplol Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Puncak Beo ini menawarkan pemandangan dengan hamparan laus yang luas serta indah dipandang mata. Di sana ada banyak tanaman anggrek yang siap memanjakan mata setiap yang melihatnya.

Selain Raja Ampat, ada pula yang namanya Pulau Misool. Pulau ini memiliki deretan pantai dengan panorama yang indah. Airnya yang sangat jernih dan pasir putih yang tersebar luas di bibir pantai menambah keindahan Pulau Misool.

source:https://kumparan.com/balleonews

Kaya Akan Hutan Mangrove 

source:https://kumparan.com/balleonews

Salah satu kegiatan dari para peneliti yang bekerja sama dengan Yayasan EcoNusa dan World Research Institute Indonesia menyusuri wilayah pesisir selatan Papua Barat menjelaskan bahwa setidaknya ada 18 sampai 22 jenis vegetasi mangrove yaitu Rhizophora mucronata, Xylocarpus granatum, dan berbagai jenis mangrove ikutan (pendamping) yang tersebar di kampung Air Besar, Fakfak, Papua Barat sana. 

Eksotiknya Lembah Baliem

Lembah Baliem merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Suhu bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam. [2]

source:http://www.itchcreature.com/

Lembah yang pertama kali ditemukan oleh orang Amerika bernama Richard Archbold terlihat sangat mengagumkan karena lembahnya dihiasi dengan ladang hijau ubi jalar bertingkat yang rapi berlatar puncak gunung yang terjal. Sehingga pemandangan Lembah Baliem yang masih hijau nan asri ini tak boleh terlewatkan jika ke sana.

Suatu saat bila memang ada rezeki dan kesempatan, Papua menjadi salah satu pilihan tempat yang ingin saya kunjungi. Sama seperti alasan saya di awal bahwa ayah saya menuturkan pemandangan di sana akan mengajarkan dan memberi pengalaman luar biasa.

Menjelajah Hutan Rimba

Bila ke Papua sepertinya kurang seru kalau tidak menginjakkan kaki di belantara hutannya. Saya ingin sekali merasakan atmosfer berada di tengah rerimbunan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Serta mengasah adrenalin saat bertemu binatang-binatang langka yang ada di sana.

Menyelam di Raja Ampat

Selain menikmati pemandangannya yang indah, saya ingin sekali melihat langsung biota laut yang ada di dalamnya. Seperti apa sih surga tersembunyi yang ada di sana itu.

Bersantai di Lembah Baliem

Dengan suasana dan kondisi udara yang cukup dingin, sepertinya Lembah Baliem adalah tempat yang sangat cocok untuk bersantai sambil bercengkrama dengan suku Dani. Apalagi jika ke sana saat ada festival Lembah Baliem. Duh ingin sekali menyaksikannya langsung.

Mengajar Anak-anak Papua

source:kumparan.com/bumi-papua

Meski belum rezeki menjadi PNS di Papua, saya masih punya keinginan untuk bisa mengajari secara langsung anak-anak Papua. Sepertinya seru sekali dan pasti menjadikan pengalaman yang tak terlupakan karena mengajari anak dengan karakteristik serta kearifan lokal yang jauh berbeda dengan tempat tinggal saya sekarang.

Semoga saja semua aktivitas yang saya inginkan di atas bisa terwujud suatu saat nanti. Penasaran sekali ingin menjelajahi setiap wisata yang ada di pulau yang terkenal dengan keasrian alamnya itu. Saya juga yakin bila Papua akan tetap menjadi tempat pariwisata hijau yang dinantikan. Tugas kita hanyalah menjaga serta melestarikan semua kekayaan alamnya, bukan malah menghancurkan untuk kepentingan pribadi.

Tertarik ke Papua juga? Sama dong.

Salam,
@meifariwis

Sumber: 
1. Indonesia Population. 2015. http://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Lembah_Baliem

3 komentar

  1. wuaaa...
    semoga kak mei ada kesempatan untuk main2 ke Papua khusunya lagi Jayapura tempatku tinggal..
    di Jayapura ju juga bagus loh kak, walaupun memang ngak seterkenal Raja Ampat.. :)
    Semoga impiannya Kak Mei jadi PNS Guru di Papua terkabul.. :)
    kalau jalan ke Jayapura kabari ya kak, nanti saya temani..

    Oh ya, sukses lomba blognya.. Hehehe
    Insya Allah saya juga mau ikut lomba ini.. Hehehe

    BalasHapus
  2. Tertarik siih, tp tiket kesana kenapa ga ada yg murah yaaaa hahahahah. Itulah makany aku blm kepikiran mau ke Papua. Cm Kalopun bisa kesana, kayaknya aku LBH tertarik ke lembah Baliem ya jg, drpd mengunjungi raja Ampat. Secara ga bisa berenang, ga kuat panas hahahahah, susah nih aku kalo udh ketemu tempat yg LBH banyak wisata air :D. Tp semogalaah, suatu saat bisa ke Papua ini jg mei. Dulu papaku pernah bbrp THN kerja di oil company di Papua. Tp kami sekeluarga ga ada yg mau ikut :p. Jauh bnget soalnya tempat kerja papa.. pesawat, lanjut darat, trus lanjut kapal menuju lokasi pabrik.

    BalasHapus
  3. Semoga tercapai ya bisa ke sana mengajar anak-anak..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar dengan sopan ya. Jangan lupa follow ig/twitter juga di @meifariwis