Pengalaman Menjadi Seorang Guru SD

Yah bulan Aprilnya dah kelewat ya? Hahaha, terlalu sibuk dengan dunia nyata sampai draf postingan blog terlupakan. Sebenarnya mau cerita tentang bulan April yang merupakan bulan bersejarah dalam hidup. Tapi nggak apa, welcome May. Insyaallah bulan Mei juga jadi bulan-bulan yang indah, amin.


Btw tepat tanggal 03 April 2013 yang lalu, saya resmi bekerja menjadi seorang guru. Kalau dihitung secara matematika sih memang baru berjalan 7 tahun, rasanya belum terlalu lama. Masih banyak hal yang harus saya pelajari dan tentu saja harus selalu mengasah skill dan cari ilmu baru.

Kalau kalian sering baca blog ini pasti tahu saya bekerja di salah satu sekolah swasta di daerah Lippo Cikarang, Charis Global School namanya. Mungkin belum terlalu familiar sama sekolah ini, tapi untuk kalangan Lippo, sekolah ini cukup dikenal baik. Meski sekolahnya masih kecil tapi lama kelamaan peserta didiknya makin banyak, itu berarti minat untuk sekolah di Charis Global cukup meningkat ya. 

Lanjut ke cerita awal mula jadi seorang guru.

Sebelumnya saya bekerja di salah satu perusahaan, lalu mencari kerja baru dengan melamar beberapa sekolah karena emang jurusan kuliah saya dulu adalah keguruan. Sudah sempat melakukan beberapa kali wawancara di sekolah lain, tapi tetap yang saya “iyakan” duluan adalah Charis Global. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh hehehe.

Mengawali karir sebagai seorang guru emang susah-susah gampang. Saya sudah pernah menceritakannya di instastory @meifariwis beberapa waktu yang lalu (klik saja untuk baca ceritanya). Tapi saya rasa kurang lengkap kalau tidak diabadikan lewat blog.

Menjadi Asisten Guru

Mungkin sebagian orang berpikir kalau melamar kerja jadi guru ya tugasnya langsung mengajar murid-murid. Tapi saya enggak lho. Saya ditugaskan untuk melihat, mereview, melakukan observasi, serta belajar hal-hal baru tentang bagaimana cara seorang guru mengajar di sekolah. Masa-masa observasi ini saya lakukan kurang lebih 3 bulan sampai akhirnya masuk ke tahun ajaran baru.

Di tahun ajaran baru inilah akhirnya saya ditugaskan untuk mengajar plus menjadi asisten guru. Yap, tugas saya waktu itu membantu wali kelas mengurus agenda anak-anak serta menjaga murid selama di sekolah. Selebihnya ya mengajar seperti biasa. Lagipula waktu itu kelas paralelnya juga belum begitu banyak.

Menjadi Wali Kelas

Setelah melewati proses menjadi asisten guru, saya naik selangkah menjadi seorang wali kelas. Awalnya galau segalau-galaunya karena merasa ilmu saya di dunia pendidikan masih sedikit sekali, sedangkan ada guru yang lebih senior. Tapi setelah konsultasi (halah) sama suami, saya disuruh untuk menerima tantangan dari sekolah. Kapan mau berkembang kalau nggak mau mencoba hal-hal baru? Ya kan? Iya juga, hahaha.

Saat jadi wali kelas 5

Menjadi wali kelas ternyata masalahnya lebih kompleks, karena selain harus menghadapi anak-anak, juga harus siap menerima komplen dari orang tua murid. Padahal kalau dipikir-pikir setiap masalah kan ada solusinya, tinggal kerjasama saja antara orang tua dan sekolah. Cuma ya nggak semua orang bisa berpikiran sama, jadi kadang ada masalah-masalah sedikit, untung aja bisa diatasi.


Setelah hampir tiap tahun menjadi wali kelas, saya jadi lebih hapal apa aja kira-kira yang bakal dihadapi dan dialami selama mengemban amanah tersebut. Maklum hampir setiap kelas kan memiliki problematika masing-masing, tinggal bagaimana saja menyikapi setiap masalah-masalah yang ada.

Eh emang kalau jadi wali kelas isinya cuma masalah-masalah aja?

Ya enggaklah.

Jadi wali kelas juga ada sukanya. Apalagi kalau berkaitan sama kepuasan batin. Disayang murid, dipeluk murid, diberi apresiasi oleh orang tua, dan dihargai kerja kerasnya oleh sekolah. Kadang hal-hal remeh macam “Miss Mei, aku sayang kamu” dari murid gitu rasanya bikin senang bukan kepalang hahaha.


Menjadi Koordinator Kegiatan

Selain mengajar, sekolah tempat saya mencari ilmu ini juga menerapkan banyak aktivitas sekolah. Ada hal yang bahkan dulu tidak pernah saya dapatkan saat duduk di bangku sekolah. Yang ada di bayangan saya kegiatan sekolah ya paling mentok PENSI. Tapi di Charis Global enggak lho.

Ada banyak sekali kegiatan yang mungkin bisa dijadikan referensi untuk mengajukan proposal di sekolah, biar kegiatannya nggak monoton itu-itu aja. Nah, kegiatan di sekolah saya diantaranya:

💚 Dan masih banyak lagi

Nah berhubung kegiatan sekolah banyak, otomatis ya guru-guru kebagian jadi panitia. Selama menjadi guru, saya pernah beberapa kali didaulat jadi koordinator kegiatan. Ada tangis air mata serta canda tawa setiap menghadapi yang namanya kegiatan sekolah wkwkwkwkw. Ya begitulah lika-liku seorang guru.

Menjadi Koordinator Kesiswaan

Salah satu hal yang tidak pernah saya sangka adalah ketika ditunjuk menjadi koordinator kesiswaan di sekolah. Sama awalnya seperti saat jadi wali kelas, saya galau, bingung, dan takut mengingat ilmu masih sedikit dan sepertinya kurang mampu untuk jadi pemimpin.

Thanks Mr Ruel dan Mr Fahri serta guru-guru CGS

Tapi namanya amanah harus dipegang teguh dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ada banyak sisi yang tetap membackup saya dari belakang. Ada banyak bantuan dari sekolah saat menghadapi masalah. Menjadi koordinator pun menjadi mudah karena campur tangan dan bala bantuan dari guru-guru sekitar. Thanks teachers!

Sekarang memang sudah 7 tahun saya bekerja, mudah-mudahan pekerjaan saya ini bisa bermanfaat buat banyak orang dan jadi amal jariyah di kehidupan kelak, amin. Nggak mudah jadi seorang guru, kalau pun mudah kayaknya nggak semua orang pengin jadi guru deh. Apapun jenis profesinya emang sebaiknya kita hargai sih. Masih ada tahapan-tahapan lainnya di dunia kerja, semoga sekolah masih mempercayaiku untuk tetap menjadi guru di sana.

Dengan jadi guru, saya punya keluarga baru, dekat dengan para pemimpin, mengenal banyak karakter orang tua dan siswa, serta bersinergi penuh dengan tim admin maupun anggota lingkungan sekolah.

Special thanks to Ibu Mina dan Mr Wong yang sudah menerima saya, terima kasih atas kebaikannya selama ini. Saya doakan semoga senantiasa sehat, panjang umur, dan banyak rezeki, amin.

Tujuh tahun mungkin waktu yang masih “singkat”, tapi inysaallah dari tujuh tahun inilah saya jadi belajar banyak hal. Doain yang baik-baik terus ya guys, amin.

Salam,
@meifariwis

5 komentar

  1. sehat dan sukses selalu ya kak :D

    BalasHapus
  2. Aku pernahnya jadi guru ekstrakurikuler anak SMA. Mengajarnya lebih ke pendekatan antar teman dan sharing-sharing. Pernah juga mengajar anak SD 1 harian dalam rangka Kelas Inspirasi, wahh kalo ini harus ekstra sabar dan tenaga. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih harus ekstra sabar emang hahahaha seru juga ya ngajar anak SMA

      Hapus
  3. Selama ini cuma jadi guru les privat aja. Belum pernah kebayang gimana ngajar di depan kelas, trus ngadepin siswa2 yang gak semuanya nurut. Hmmm sekarang lagi memikirkan kembali profesi itu soalnya kata orang tua, cewek lebih baik jadi guru, dibandingkan perusahaan. Entahlah, sukses selalu kak!

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar dengan sopan ya. Jangan lupa follow ig/twitter juga di @meifariwis