Selasa, 15 Mei 2018

Ketika Anak Lebih Percaya Gurunya Daripada Orang Tua Sendiri


Miss, tolong bilangin anak saya biar nggak suka marah-marah di rumah ya Miss.

Miss, terima kasih ya berkat nasihat Miss anak saya jadi mau susun buku sendiri.

Iya Miss tolong yah ditulis di agenda supaya anak belajar, kalau bukan Miss yang bilang dia nggak mau belajar soalnya.


Miss, anak saya nggak mau nurut nih, maunya dengerin kata-kata Miss.

Miss, minta tolong ingetin anak saya untuk sikat gigi dong Miss. Susah banget kalau disuruh sikat gigi mah.

Aduh Miss, anak-anak lebih percaya gurunya deh daripada saya.

***

Bapak-bapak, ibu-ibu, om, dan tante, adakah yang punya pengalaman serupa? Punya anak yang lebih percaya atau menurut pada gurunya ketimbang orang tuanya sendiri? Tenang, mari berpelukan hahaha.

Sebenarnya saya belum mengalami fase punya anak yang seperti itu. Tapi sekarang posisi saya adalah sebagai guru mereka. Itu artinya sayalah orang yang dipercayai dan didengar oleh anak-anak tersebut.

Kalau ditanya perasaan saya bagaimana ya jawabannya antara senang dan sedih. Senang karena ternyata selama ini anak-anak percaya sama saya. Sedih karena mereka nggak mau denger perkataan orang tua. Huuuuuu kan bikin galau yak?

Memang ya tiap anak punya karakter masing-masing, nggak bisa kita samain satu-satu. Tapi setelah mendengar curhatan beberapa orang tua ternyata emang benar, ada “sebagian” anak yang lebih percaya sama apa yang dikatakan atau diajarkan guru di sekolah daripada orang tua sendiri.

Pernah ada kejadian seperti ini:

Si anak dapat PR Matematika, di sekolah gurunya ngajarin konsep penyelesaian A. Saat di rumah, orang tua bantu mengajari anak untuk menyelesaikan PRnya. Nah si orang tua anak itu pakai cara penyelesaian B. Tapi sang anak nggak mau dengerin, karena guru kan ngajarinnya pakai cara A, jadi kalau pakai cara B pasti salah, padahal jawabannya ya sama saja.

Terjadilah debat panjang antara orang tua dan anak, hahaha. Ya ampun, sampai segitunya si anak percaya apa saja yang dikatakan orang tua. Dalam benak mereka sudah terkonsep bahwa guru selalu benar. Padahal aslinya guru bukanlah manusia yang sempurna, ada kalanya kok mereka salah.


Mengapa sih anak lebih menurut dan percaya sama guru daripada orang tua sendiri? 

Alasannya karena:

πŸ’”Anak takut dianggap salah sama gurunya.

Contoh cerita tentang PR Matematika tadi. Mereka takut kalau apa yang diajarkan mama papanya di rumah itu salah, meskipun jawabannya benar. 

πŸ’” Malu dengan teman.

“Kok cara kamu ngerjain PR beda sih? Kan Bu Guru ngajarinnya begini” ujar salah seorang teman murid. Anak bisa saja malu jika apa yang ia kerjakan itu berbeda dengan milik teman-temannya. Ya sudah, daripada malu mending percaya aja sepenuhnya sama guru.

πŸ’” Terlalu lama di sekolah. 

Di sekolah belajar dan bermain katakanlah hampir 8 jam, mau nggak mau aktivitas mereka lebih banyak bersama gurunya dong daripada sama orang tua di rumah. Jam belajar yang panjang ini juga mempengaruhi keadaan anak. Kan ketemu gurunya lebih lama, jadi interaksinya pun juga makin beda.

πŸ’” Gurunya lebih halus dan sabar.

Bu guru kalau nasihatin lebih halus nih dibanding mama dan papa, bicara sedikit saja langsung mengena di hati, eeeeaaaaaa hahaha. 

Lalu bagaimana cara agar anak tetap mau mendengarkan orang tua tanpa embel-embel “Kata Bu guru enggak begini kok, Ma” ???

Mungkin hal-hal berikut bisa jadi bahan pertimbangan.

πŸ’— Jadi Teman

Kenapa anak lebih percaya sama gurunya? Karena selain mengajar pelajaran, guru juga jadi tempat curhat dan teman bermain anak. Guru bisa berakting, sangar saat mengajar, humble saat istirahat. Jadi di mata anak-anak, “Oh ibu/ bapak  guru ini asyik, jadi aku bisa nyaman jika bersamanya”. 


Nyaman dalam artian bisa dijadikan teman diskusi ya, mau mendengarkan keluh kesah anak atau mengerti situasi anak. Makanya anak-anak akan jadi lebih percaya dan patuh sama gurunya.

Saya juga gitu, biasanya dengerin cerita anak-anak dengan seksama (meski kadang bosen juga wkwkwkw). Lalu mulai menanggapi apa yang mereka ceritakan, malah kadang kasih solusi jika ada masalah.

πŸ’— Bimbing Anak Saat Belajar

Belajar bersama itu penting banget lho. Saya beri salah satu contoh nyata ya:

“Si A kenapa kamu nggak mau dengerin mama kamu?” tanya saya.

“Karena mama bisanya cuma nyuruh Miss, tanpa mau bantuin” 

Huaaaaaaa, kalau sudah begitu kan ya jadi serba salah. Solusinya berarti begini, selain memerintah atau menasihati, orang tua memang sebaiknya memberi contoh sama si anak. Meski kadang nggak semua pelajaran dikuasai orang tua, tapi setidaknya ortu bisa mendampingi si anak dan membimbing mereka saat belajar.

πŸ’— Beri Semangat dan Pujian

Guru memang biasanya selalu memberikan kata-kata positif pada anak-anak. Padahal hanya sederhana lho, contohnya “Wah si A kamu hebat ya”, “Good job students!”, “Congratulation”, “Rajin sekali kamu”, dll. Tapi ternyata kata-kata positif itu mengena di hati anak-anak.

Pernah ada murid yang susah banget disuruh belajar, tapi pas dipuji dan diberi kata-kata positif, orang tua murid langsung laporan “Miss, anak saya jadi mau belajar nih, dia senang dipuji sama Miss” hahaha.

πŸ’— Komunikasi Dua Arah

Sudahkah mama dan papa tanya pada anak saat di sekolah kegiatan mereka ngapain aja? Kalau belum, coba cara yang satu ini deh. Akan ada beda jika anak diajak komunikasi atau anak didiamkan saja, outputnya akan berbeda sekali.

Ya gimana anak mau percaya atau nurut sama orang tua kalau komunikasi saja jarang terjadi? Sedangkan di sekolah kan hampir tiap hari ngobrol sama guru, jadi anak lebih peka jika diajak bicara. 

πŸ’— Sesekali Belikan Hadiah

Saya bilang sesekali ya karena biar nggak keseringan, takut ntar jadi kebiasaan. Boleh kok sesekali memberikan sesuatu yang disukai anak. Misalkan anak sudah belajar, berusaha dengar perkataan orang tua, sikap dia baik, atau yang simpel-simpel sajalah, nah di sini orang tua bisa kasih reward berupa hadiah. Kan tadi udah tuh kasih motivasi serta pujian, sekarang bisa berupa barang atau apa gitu yang disukai anak.

***

Kelihatannya gampang ya? Belum tentu juga, makanya perlu ada sinergi antara orang tua murid dan anak. Insyaallah, kepercayaan pada orang tua akan sedikit demi sedikit terjalin kembali dengan baik.

Percayalah, tidak semua hal itu bisa diserahkan sama guru karena pembimbing utama sebenarnya terletak pada orang tua itu sendiri. 

Semoga curhatan yang diselipin solusi tentang “Kepercayaan Anak Lebih Besar kepada Gurunya daripada Orang Tua” ini bermanfaat ya. Boleh juga ditambahkan tips-tips yang lainnya jika sekiranya bisa membantu para orang tua.

Feel free to share, saya juga menerima saran, hehehe.

Salam manis,
@meifariwis

7 komentar :

  1. Kalau dalam soal pelajaran, anak-anak sekarang punya tiga guru, dengan skala tingkat kepercayaan adalah :
    1. Gurunya di sekolah (guru sesuai profesinya)
    2. Guru di dunia maya (paman google)
    3. Gurunya di rumah (orang tua/kakak/saudara)

    BalasHapus
  2. Ini kejadian sama ankku. Kadang aku ngajarin dia buat PR nya tapi dia ngeyel kalau jawabanku salah, katanya gak sama kayak yang diajarin gurunya. :")

    BalasHapus
  3. Anakku msh blm di tahap ini sih :p. Tapi aku dulu pas sekolah termasuk yg percaya ama guru drpd ortu. Alasannya ya krn ortu galak bgt. Jd kayaknya lbh seneng kalo deketnya, percayanya ke guru aja mei :D

    BalasHapus
  4. Jadi inget dulu saya sering banget dikasi reward oleh orang tua kalau berhasil dapat nilai baik di sekolah. Syukur bisa mencapai prestasi di sekolah sehingga fasilitas penunjang belajar selalu disediakan. Ayah saya juga sering ngajarin PR matematika, komputer dan fisika karena pinter banget masalah itu :D

    Kalau anak-anak lebih mendengar perkataan guru dari pada orang tua ya juga karena mereka merasa lebih segan dengan gurunya daripada dengan ortu. Kalau saya sih akrab banget sama ortu tapi ya masih mau mendengarkan mereka kok cuma suasananya kan lebih erat kekeluargaan kalau dengan guru di sekolah sikapnya lebih formal.

    BalasHapus
  5. Takut nilainya berkurang kalau punya ahlaq jelek. :v

    BalasHapus
  6. Kalo anak saya malah kebalikannya, maunya sama emak dan bapaknya aje, nah kalo gitu gimana mba Mei?? Bikin tipsnya juga dong, wkwkwkwk... Mampirlah ke blog Ndeso saya mba, and please leave a comment on may article, judule : Bagaimana Menjadi Blogger #BeMoreProductive. Matursuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beraeti mama papanya sangat dikagumi mas hehehe
      Tipsnya apa ya, ntar dipikirin dulu hahaha
      Baik, meluncur ke tkp

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung :)

Back to Top