Selasa, 05 Maret 2019

Benarkah Rumput Tetangga Jauh Lebih Hijau?

Suatu hari saya ngobrol sama seseorang, sebut saja namanya Bunga. Bunga ini sama seperti saya baru punya satu anak yang masih kecil. Bedanya dia full jadi ibu rumah tangga di rumah, sedangkan saya ibu jadi-jadian, hahaha. Ya enggaklah, saya ibu rumah tangga sekaligus ibu pekerja.

Baca juga: Tentang Saya


Kami ngomongin masalah anak, ya cara ngasuhnya bagaimana, minum susu apa, popok merk apa, sampai kami membahas hal-hal sentimentil yaitu gaji suami. Oh tentu saya tidak menjabarkan berapa gaji suami saya, karena kan saya tahu diri. Nggak ada gunanya juga kasih tahu orang lain mengenai gaji, itu kan privasi. 

Beda sama si Bunga, meskipun dia tidak menyebutkan secara detail gaji suaminya tapi saya bisa menebak dikisaran angka berapa gaji suaminya tersebut. (((Macam cenayang aja nih gue, alias sok tahu, lol))). Saya tahunya ya karena Bunga cerita kalau dikasih jatah suami sekian juta, buat bayar cicilan rumah dan mobil sekian juta, beli susu dan popok juga sekian juta, ya lama-lama kan saya jadi tahu kalau dijumlahkan totalnya jadi berapa hahaha.

Yang bikin saya kaget saat kami sama-sama menyebutkan biaya listrik sebulan berapa. Bunga nyeletuk 500 ribu, sedangkan saya cuma 50 ribu doang. Hah beneran 50 ribu sebulan? Iyalah bener, ngapain juga boong.

Kok bisa beda sampai 100% gitu gimana sih?

Nih pengeluaran listrik si Bunga, dia punya: mesin cuci, kipas angin 1, AC 2, televisi 2, rice cooker, setrika listrik, dispenser, serta kulkas yang hampil full dinyalakan tiap hari.

Kalau saya?

Cuma punya rice cooker 1 (itu masaknya juga jarang, kalau lagi pengin makan nasi aja), kipas angin 1 (nyala saat sore sampai pagi hari), setrika 1 (saya jarang nyetrika, seminggu paling sekali itupun cuma seragam doang yang disetrika), televisi 1 (kami juga jarang nonton tv karena kan kerja). Udah sih itu aja.

Saya nggak punya mesin cuci (meski sebenarnya butuh), nggak punya kulkas (mau beli masih mikir-mikir karena kan saya jarang masak juga), nggak punya AC (masih bisa bertahan dengan kipas angin), nggak ada dispenser (minum langsung dari galon yang dituang ke teko).

Ya wajar sih kalau listriknya hemat. Karena barang elektronik di rumah saya juga sedikit dan jarang dipakai karena kami bertiga (saya dan suami kerja, Kenzo sekolah dan di daycare). 

Pertanyaannya kok bisa bertahan dengan keadaan seperti itu? Bisa. Karena dari kecil di rumah saya nggak pernah pakai AC, nyuci juga pakai tangan, kalau TV emang sih nonstop, setrika jarang, apalagi barang elektronik lainnya. Jadi ya masih aman-aman aja. 

Yang jadi poin adalah bukan masalah seberapa banyak elektronik di rumah kami. Tapi lebih ke maintenance pendapatan.

***

Saya dulu pernah menulis tentang "bersyukur" (klik ya!), di situ sudah saya jabarkan bagaimana kalau kita selalu melihat ke atas maupun ke bawah. Dan semua memang sudah ada porsinya.

Nggak heran kok kalau gaji seseorang gede terus pengeluaran jadi lebih gede. Misal dulu gaji cuma 1 juta per bulan tapi cukup buat makan sehari-hari dan bayar kontrakan. Sekarang gaji 2 juta tapi malah kurang, karena beli motor jadi harus nyicil.

Wajar sih, tapi yang bikin nggak wajar ketika penghasilan udah gede tapi pengeluaran malah jauh lebih gede. Itu kan bikin mumet pastinya, hahaha. Niatnya mau menikmati hidup tapi malah terperangkap sama cicilan hutang hadewwwwww.

Tapi nggak semua kayak gitu lho. Ada kok yang penghasilannya udah gede tapi pengeluaran tetap sama seperti tahun sebelumnya jadi bisa saving money banyak banget. Ada juga. Percayalah di dunia ini masih banyak orang yang irit, pintar menabung, dan tentu saja kuat iman untuk nggak berfoya-foya.

Rumput tetangga memang lebih hijau ya?

Iya benar.

Tapi kan sebenarnya kita nggak tahu bagaimana hidup mereka sebenarnya.

Kembali ke prinsip "bersyukur" tadi. Kalau kita selalu meratapi nasib karena hidup kok gini-gini aja ya sudah, nikmati aja proses kehidupan. Tenang, ada saatnya kita di atas kok. Mungkin cuma belum sampai aja, wkwkwkwk.

Kalau saya melihatnya begini:

Si A bisa kuliah di luar negeri pakai beasiswa.

(Wah hebat! Mungkin dia berjuang mati-matian untuk bisa sekolah di sana atau emang dari keturunan kaya raya. Saya nggak boleh iri.)

Si B punya suami yang kerjanya udah mapan.

(Keren! Mungkin dulu nikahnya tahun 1995 jadi di tahun 2019 ini suaminya udah pegang jabatan tinggi. Suami saya belum karena kerja juga belum lama, no worry.)

Si C udah beli mobil.

(Bagus! Mungkin tabungannya udah cukup dan dia lebih kerja keras. Kalau saya cash flow aja berantakan gimana mau beli mobil. Baiklah saya akan perbaiki pola hidup lebih lebih dan lebih hemat lagi.)

Pokoknya biar nggak kebawa arus sama rumput tetangga atau orang lain, mending berpikir yang real aja sambil terus berusaha. Saya yakin Si A, B, atau C dulu pernah merasa susah dan sekarang sudah berjaya jadi tinggal nikmatin hidupnya aja.

Seperti caption saya di gambar paling atas "No matter how hard you work, someone else is working harder."

Buat kelen-kelen yang masih sama merangkaknya seperti saya, ayo semangat! 2019 pasti bisa dong terlewati dengan manis. Harus optimis asal jangan over aja karena ntar jatuhnya malah lebih nyesek wkwkwkw.

Okay mari kita akhiri postingan kali ini dengan mengucap niat dalam hati akan jadi lebih baik. Nggak perlu takut sama hidup yang udah dikasih Tuhan sama kita. Insyaallah akan ada masa indahnya.

Jadi masih percaya kalau rumput tetangga lebih hijau? Hati-hati hoax ntar :p

Ciayooooooooooooo!

Salam,
@meifariwis

4 komentar :

  1. Sepakaat mbak, kalau bandingin sama yg lain pasti nggak ada habisnya. Selalu rumput tetangga terlihat lebih hijau ya mbaak :" banyakin syukur sama lihat pencapaian sampai sekarang ini biar ndak kufur ketika melihat yg lain dpet lebih banyak. makasih atas sharing yg sangat berfaedah mbaak ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mbak, kalau selalu bandingin dengan hidup orang lain pasti ujungnya nyesek karena pencapaian yg masih kurang. Harus tetap semangat dan bersyukur, yeyeye

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. namanya juga manusia, pasti kebanyakan tidap akan pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar dengan sopan ya. Jangan lupa follow ig/twitter juga di @meifariwis

Back to Top