Selasa, 23 Agustus 2016

Suka Duka Ibu Menyusui

Assalamu'alaikum :)

Saat pertama kali mengetahui bahwa saya bakal jadi seorang ibu, hati ini terharu sejadi-jadinya. Iya, wanita enerjik yang sering keluyuran berdua bersama suami akhirnya dinyatakan positif hamil. Waktu itu proses persalinan saya adalah normal. Beruntungnya saya punya suami yang siaga dan sangat membantu proses lahirnya dedek bayi ke dalam dunia ini.


Sebelum dedek bayi lahir, saya dan suami memang sudah berkomitmen untuk memberikan ASI ekslusif padanya. Pun dengan pihak rumah sakit yang menangani saya kala itu, mereka selalu memberikan sugesti positif kepada saya untuk segera mungkin memberikan ASI pada anak kami. Setelah dedek bayi keluar, saya langsung mengikuti instruksi dokter untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), karena saya tahu sungguh besar manfaat dari ASI ini. 

Ilustrasi Pribadi, sumber materi 1

Apakah ASI saya lancar? Tentu saja tidak, seperti ibu muda kebanyakan saya mengalami kesakitan pada puting susu karena ASI susah keluar. Tapi saya bersyukur memiliki suami yang terus-terusan memberi saya semangat. Saat itu perawat rumah sakit juga selalu membantu memijat payudara agar ASI segera keluar. Jangan ditanya rasanya, karena sungguh luar biasa sakitnya.

Saya sempat sedih mendapati ASI keluar dengan kapasitas yang sedikit. Ibu saya, iya ibu kandung saya sendiri terus-terusan menyuruh saya untuk sesegera memberi susu formula kepada dedek bayi. Saya langsung stres kala itu, di sisi lain saya ingin memberi ASI, disisi lain pula saya selalu mendapat desakan dari ibu untuk memberikan sufor pada dedek bayi. 

Satu hari berselang, saya benar-benar merasakan mukjizat yang luar biasa. ASI saya yang awalnya hanya sedikit, lama kelamaan semakin banyak dan keluar dengan derasnya. Setelahnya, saya bisa memberikan ASI dengan tenang tanpa takut air susu akan habis, karena ASI saya kala itu benar-benar deras.

Ternyata awal-awal menyusui puting saya lecet sampai keluar darah. Saya menangis kesakitan, tapi demi sang buah hati saya relakan rasa sakit itu sampai kurang lebih 1 mingguan baru lecet-lecetnya sembuh. Entahlah, sampai sekarang saya tidak tahu penyebabnya apa. Tapi beruntung kejadian puting lecet itu tidak berlangsung lama.

Tiga bulan berlalu, saya sangat menikmati menjadi seorang ibu yang sukses memberi ASI ekslusif pada buah hati. Sampailah tiba saatnya saya harus kembali bekerja. Dilema itu yang terus-terusan menghantui, apakah saya harus meneruskan ASI atau malah terjebak dengan memberikan sufor? Setelah berdiskusi panjang lebar dengan suami dan mengingat derasnya ASI saat itu akhirnya saya memutuskan untuk memberikan ASIP (Air Susu Ibu Perah).


Alhamdulillah selama 6 bulan saya berhasil memberikan ASI pada dedek bayi. Bahkan sampai saat ini (Kenzo berusia 14 bulan) saya tetap menyusui. Saya termasuk orang yang pro ASI, oleh karena itu di Pekan ASI Dunia ini (World Breastfeeding Week, 1- 7 Agustus) besar harapan saya semoga seluruh anak-anak di dunia ini sehat dan bisa mendapatkan haknya, yaitu ASI. Pun juga dengan ibu-ibu di seluruh dunia, semoga bisa memberikan ASI untuk anak mereka. Selain itu, untuk semua pihak (suami, keluarga, dan lingkungan) semoga memiliki kesadaran yang sama untuk tetap memberikan semangat pada ibu menyusui.

Banyak sekali hal yang saya rasakan ketika menyusui dedek Kenzo. Mungkin pengalaman serupa juga dialami oleh ibu-ibu di luaran sana. Apa sajakah suka dan duka yang saya rasakan selama menyusui. Berikut diantaranya:

Ilustrasi pribadi

1. Hemat waktu.

Berhubung ASI selalu tersedia kapanpun jadi saya tidak perlu repot-repot mencuci botol susu. Saat bepergian pun juga, saya tidak perlu membawa perlengkapan susu bayi karena tinggal menyusui saja jika anak ingin minum ASI.

2. Hemat biaya.

Bahagianya bisa menyusui adalah ketika saya tidak perlu merogoh kocek untuk membeli susu formula, karena ASI gratis. Menyusui pun bisa dengan tenang tanpa memikirkan mahalnya harga susu. 

3. Mengeratkan hubungan ibu dan anak.

Selama ini hubungan saya dan Kenzo sangat dekat. Saya selalu ingin berada di sampingnya kapanpun dan dimanapun. Nah momen tersebut juga saya dapatkan lewat menyusui. Saat menyusui Kenzo saya bisa terus melakukan kontak fisik setiap hari. Saya bisa melihat mata anak saya, bisa membelai rambutnya, menciumi tangannya dan bisa sambil bercengkrama dengannya.

4. Berat badan ideal.

Percaya atau tidak, semenjak menyusui berat badan saya kembali normal seperti sedia kala. Padahal nafsu makan saya banyak (efek menyusui katanya), apa saja saya makan, dan pasti selalu lahap. Tapi ternyata berat badan saya tidak melar, saya sih yakin ini semua berkat menyusui jadi lemak-lemaknya ikutan menjauh :).

5. Menyusui adalah obat mujarab.

Pernah tidak mengalami anak tantrum? Nangis sejadi-jadinya, diberi mainan tidak mau? Atau saat terjatuh dan menangis, saat lapar ataupun haus? Obatnya hanya 1, yaitu ASI. Faktanya, setiap Kenzo rewel kemudian saya susui pasti Kenzo langsung terdiam dan mulai tenang. ASI benar-benar mujarab buat anak saya :).

6. Bingung menyusui dimana.

Well, meski saya tidak rempong menyiapkan perlengkapan susu, tapi terkadang saya juga kebingungan mau menyusui dimana. Maklum tidak semua tempat yang saya datangi menyediakan ruangan menyusui. Alhasil saya harus sembunyi-sembunyi saat memberikan ASI. Beruntung suami saya selalu jadi penutup saat dedek Kenzo sedang asyik menyusu.

7. Terbangun tiap malam.

Sebenarnya mungkin ibu-ibu yang tidak menyusui akan melakukan hal yang sama yaitu terbangun tiap malam. Bedanya, ibu-ibu lain menyeduh susu, kalau saya terbangun gara-gara harus gantian posisi tidur saat menyusui. Kadang anak saya menyusu sebelah kanan, mau tidak mau saya harus bangun dan berpindah posisi agar Kenzo bisa menyusu yang sebelah kiri.

8. Puting sering digigit.

Ini fenomena yang sering dilanda ibu-ibu menyusui, termasuk saya pribadi. Kini dedek Kenzo hobi banget gigit saat disusui, bisa kebayang sakitnya apalagi sekarang gigi Kenzo sudah ada 8. Oh my God, sempurna sakitnya. Semakin dibilangin malah semakin gigit, yasudah akhirnya saya pun pasrah.

9. Lecet dan perih.

Poin ini sebenarnya saya rasakan di awal-awal menyusui. Saat itu payudara terasa bengkak dan membuat badan jadi demam. Bahkan sampai lecet-lecet, untungnya sekarang sudah tidak lecet lagi tapi tetap perih akibat digigit Kenzo.

10. Sakit pinggang dan punggung.

Sakit ini sering sekali saya rasakan akibat salah posisi saat menyusui Kenzo. Terkadang punggung sakit, pinggangpun ikut-ikutan sakit. Dulu saat awal menyusui saya harus rela bangun untuk menyusui, sekarang saya sudah bisa menyusui dengan posisi tidur, tapi tetap saja sering sakit punggung.

Sebenarnya suka dan duka di atas akan hilang dengan sendirinya ketika kita melihat buah hati tumbuh dengan sehat dan cerita. Mengingat begitu pentingnya ASI untuk anak, ada baiknya kita ikut menyukseskan pekan asi dunia ini dengan terus memberi support pada ibu-ibu menyusui. Karena pada hakikatnya sukses atau tidaknya seorang ibu memberi ASI adalah dipengaruhi oleh faktor eksternal juga. Siapa saja mereka? suami, keluarga, sahabat, tetangga, maupun lingkungan sekitar. 

Ilustrasi pribadi

Yuk, kita canangkan gerakan memberi ASI ekslusif pada buah hati! :) :) :)

Catatan:
Semua ilustrasi adalah karya pribadi
Sumber materi pada gambar 1:
http://www.rumahsehatterpadu.or.id/2013/02/28/manfaat-manfaat-asi-untuk-bayi-ibu-keluarga-dan-negara/


Salam,
@meifariwis

16 komentar :

  1. menyusui itu praktis, kalo anak pengen nyusu, tinggal keluarin aja, gak usah seduh dulu, cuci botol dulu, sterilisasi dulu :D

    BalasHapus
  2. Pengalaman ini hampir dirasakan oleh ibu yang baru melahirkan. Awal-awalnya susu kuang lancar. Tapi lama-kelamaan akan lancar dengan sendirinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, biasanya ibu2 merasakan hal yang sama :)
      Insyaallah bener lancar dgn sendirinya

      Hapus
  3. Belum sampe tahap sana, karena menikah aja belum. Tapi bisa untuk ingatan aja besok kalo udah menikah dan mau punya anak. Sebagai calon suami jadi sedikit tau harus gimana kalo punya anak pertama.

    Jadi pengen nikah :D.

    Sabar, tunggu abang saya nikah duluan deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti pasti kamu bakal merasakan hal yang sama hehehe
      Iya nanti kamu harus belajar jadi suami yg baik
      ayoooo semangaat

      Hapus
  4. Berat ya pengorbanan seorang ibu . Termasuk hal menyusui seperti ini.

    Yaa mau gimana lagi , itu udah jadi kewajiban seorang ibu untuk membesarkan dan mendidik anaknya.Tapi emang sih kalo aku belum ada kepikiran kesana juga.Tapi dari artikel ini , udah kebayang gimana rasanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sEMUA PENGORBANAN akan terbayar dengan ceria dan sehatnya si anak kok
      Kewajiban ibu memang begitu, aku senang hihihihi

      Hapus
  5. Mbak mei, kapan2 tulis juga dong siasat ngasih ASI buat dedek bayinya untuk wanita yang bekerja.

    Aku emang belum nikah, tapi pasti suatu saat aku juga bakal ngerasain hal yang sama kayak mbak mei. Kadang ada kekhawatiran gitu mbak, aku yang sekarang bekerja besok kalau udah nikah dan punya anak, anakku ini bisa g ya aku kasih ASI eksklusif. Apalagi cuti pegawai yang melahirkan kan sebentar doang, takutnya kebawa stres juga, padahal produksi ASI ditentukan juga sama mood ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dulu pakai ASIP, linknya ada di cerita di atas yaaa
      kalau sekarang kan anakku udah 1 tahun ke atas, jadi sudah minum susu pertumbuhan dan tetap ASI juga

      Hapus
  6. pengalaman buat saya pas nanti sudah menikah dan punya anak.. :D
    kalau di bayangin dari sekarang rasanya ribet dan ngak mengenakkan banget ya..
    tapi ntar kalo udah dijalanin, mungkin ngak seseram yang dibayangkan sekarang.. :D

    BalasHapus
  7. menyusui bayi dengan asi itu lebih sehat ketimbang menggunakan susu buatan seperti susu bayi yang beredar di pasaran. tapi kalau soal susu dan menyusui saya kurang tau secara mendalam karena saya bukan seorang wanita :D hehehe

    BalasHapus
  8. Wah-wah... Ternyata memberikan ASI itu, perjuangannya gini banget ya kak Mei. Suka salut deh, sama para kaum hawa, bisa memanage semuanya, ya meskipun diri sendiri bisa kurus gitu.

    Buat cewek nih, yang belum menikah. Bisa jadi pelajaran banget. Buat gue juga, sih. Biar tau, kalo istri gue nanti sudah memberikan ASI, apa aja yang harus gue maklumi. :D

    BalasHapus
  9. Puting digigit itu sering ngrasain, sakit tapi gak bikin kapok :))

    BalasHapus
  10. Benar banget semua daftar di atas, Mbak. Saya selalu mendampingi proses ASI anak-anak kami. Full 2 tahun karena istri resign dari pekerjaannya. Memang jadi hemat sih. Sempat pakai sufor selama dua minggu pertama setelah caesar, ribet banget deh nyiapinnya. Botol musti direbus dll. Ngantuk pula pas malam-malam. Kalau ASI kan kayak dispenser alami, anak bisa sekalian dekat ma ibunya. Bisa bikin cerdas juga katanya.

    BalasHapus
  11. ada lagi mba yng ke 11... jadi KaBe alami.. hihii.. katanya sih begitu, eh tapi kok ga berlaku sama saya ya.. hihi...

    ilustrasinya kocak banget mba..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar dengan sopan ya. Jangan lupa follow ig/twitter juga di @meifariwis

Back to Top