Kamis, 10 November 2016

Happy United Nations 2016

Asssalamu'alaikum :)

Halooo.. tahu gak tanggal 28 Oktober itu hari apa??? Yap, betul! Hari Sumpah Pemuda dan juga Hari Perserikatan Bangsa – Bangsa (United Nation), jadi saya akan share tulisan mengenai kegiatan pemuda-pemudi generasi penerus bangsa (halah). Siapa lagi kalau bukan murid-murid saya??? Hahaha.

Beberapa hari yang lalu, sekolah saya mengadakan Open House tahun ke 10 (wuuuih gak terasa ya udah lama). Seperti biasa sekolah pasti menampilkan hal-hal yang all out to the max, tak lain dan tak bukan supaya banyak parents yang tertarik menyekolahkan anakknya di sana, wajarlah ya namanya juga sekolah swasta.


Kegiatan ini tidak hanya mengenalkan sekolah ke luar, tapi juga mengajari anak untuk saling menghargai perbedaan. Sebagai sekolah universal yang mempunyai banyak agama, suku, ras, dan budaya maka di hari PBB itu juga sekolah melakukan berbagai pertunjukan dari negara-negara lain. Apalagi murid-murid Charis Global banyak yang dari Korea, Jepang, Cina, Malaysia, bahkan India.  


Sebenarnya acara kali ini hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, ada bazar, perform anak-anak, kunjungan ke kelas-kelas, dan mempresentasikan negara-negara tetangga dalam tiap kelas. Bedanya, tahun ini bagian SD tidak ikut andil dalam penyelenggaraan UN Day, gak sempetlah dekor-dekor kelas seperti dulu lagi.



Enaknya kalau ada perayaan begini, banyak sekali makanan yang dijajakan oleh orang tua murid. Meskipun harganya mahal tapi tetap saja banyak yang membeli makanannya, termasuk saya. Gimana mau diet kalau ada jajanan dan cemilan di sekolah, huaaaa tapi tak apa, setahun sekali ini kok :p

***

Seluruh bagian kelas Nursery dan Kindergarten dihias sedemikian rupa berdasarkan pilihan negara masing-masing. Ada yang memilih negara Amerika, Italia, Belanda, atau Korea. Intinya sih satu “Ingin Mewujudkan Keselarasan dalam Keberagaman”.

Selain menghias kelas, ada berbagai pertunjukan yang dibawakan oleh anak-anak mulai dari N1 sampai dengan anak-anak SMP. Mereka menyanyi dan menari menggunakan bahasa dari negara lain.

Meskipun tahun ini tidak banyak berperan tapi setidaknya anak didikku kelas 6 bisa menampilkan sebuah dance cover buat merayakan UN Day kali ini. Saya sih senang-senang saja, toh mereka dance latihan sendiri tanpa perlu saya koordinasi, ya maklumlah kan udah gede cyin  :p


Dari sekian banyak kegiatan UN Day ini ada beberapa hal yang ingin sekali saya soroti:

Pertama,
Guru-gurunya kreatif 


Menjadi seorang guru memang tidak mudah, selain harus bisa mengajar anak didik dengan baik mereka juga harus punya kreatifitas. Contohnya, bisa menari, bisa menyanyi, bisa mendesain pembelajaran, bisa art and craft, dan bisa hadapi parents.

Kedua,
Berbeda tapi satu


Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, sekolah kami ini beragam sekali orang-orangnya. Mau cari orang Jawa? Ada, banyak, saya salah satunya. Orang Sunda? Ada. Orang Kristen, Katholik, Buddha, Islam? Ada semua dan kami hidup rukun. Gak pernah sekalipun mencela keyakinan orang lain, bahkan setiap perayaan hari besar keagamaan pasti akan dirayakan oleh guru dan murid yang bersangkutan.


Ketiga,
Anak-anak yang multitalenta


Pernah baca tentang Multiple Intellegence? Itu lho tentang 7 bakat anak yang beda-beda. Ada yang jago musik, pintar di Matematika, sayang lingkungan, pandai bersosialisasi, dan lain sebagainya. Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Di sini saya melihat ada banyak talenta yang dimiliki anak-anak. Saya bangga dengan mereka karena masih kecil sudah bisa bahasa Inggris, berani tampil menyanyi di depan umum, bisa menggambar, bisa menari, dan lain-lainnya. Anak zaman sekarang mah keren-keren (tapi zaman dulu juga keren ding).


Keempat, 
Orang tua murid yang kooperatif


Dulu saya pernah membahas tentang suka duka menjadi seorang guru, salah satu poinnya membahas tentang hubungan antara guru dan orang tua siswa. Nah di UN Day ini saya juga melihat beberapa orang tua yang memang kooperatif dengan sekolah. Mereka datang menyaksikan anaknya tampil, mereka berjualan di sekolah, dan ikut meramaikan acara sekolah. Hal seperti itulah yang sangat saya harapkan, jadi ada relasi yang cukup baik antar guru dan orang tua siswa, tidak hanya melulu soal komplain ini dan itu. 


Sumpah Pemuda kemarin sekolah teman-teman ngapain? Apakah ikut merayakannya juga?

Salam,
@meifariwis

16 komentar :

  1. Seragam gurunya unik, beda dari sekolah pada umumnya, ah jadi pend daftar jadi guru swasta deee hihi

    BalasHapus
  2. Semarak sekali kegiatannya itu. Salah satu sekolah unggulan ya mba???

    BalasHapus
  3. wah seru euy kegiatannya. Kalo di sekolah anakku, ngadain Market Day. Yang jualan hanya boleh anak-anaknya dan barang yang dijual dibatasi harganya sampai 10 ribu rupiah. Tiap anak yang gak ikut jualan boleh jadi pembeli dengan membawa uang saku dari rumah maksimal 20rb. Kegiatan jualan cuma boleh dibantu guru2 di sekolah, ortu gak boleh ikutan samasekali karena biar anaknya pada mandiri. Ini kegiatan pas acara Gema Muharram (menyambut thn baru islam). salam kenal ya mbak :) selelau seneng baca blog para ibu guru, terutama baca cerita seputar aktivitas ngajarnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini juga ada market daynya juga mba tapi khusus yang SMP hehehe
      Keren jug sekolahannya mbak.
      Salam kenal juga yaaa makasih sudah mampir

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  4. enak ya kalau ngajar di sekolah swasta, apalagi muridnya beda beda ras dan negara. udah berapa bahasa yang dikuasai mba ? hhe

    BalasHapus
  5. Wah ngiri liat photonya unik2 banget... pengen banget deh rasanya balik lagi jadi bocah seperti mereka...

    Liat potonya aja kirain aku tu diluar negri mbak.. taunya itu international school toh...
    Asik ya liat bocah dari berbagai ras..

    BalasHapus
  6. ini yang saya salut dengan sekolah swasta. disamping orang tua yang pro aktif, guru2nya juga dituntut selalu inovatif kan ya......beda sama negeri

    BalasHapus
  7. Biasanya sekolah swasta itu menjurus ke satu agama tertentu, kalau pun umum.. biasanya sekolah swasta buangan yg isinya anak nakal gak keurus. Tapi sekolahnya mbak Mei keren banget euy, gak ada minoritas mayoritas, kegiatannya juga seru-seru. Guru-gurunya apalagi.

    Btw, itu siapa ya yang wajahnya ditutupin emoticon? Haha

    BalasHapus
  8. menarik ya? saya suka sekolah yang mengajarkan multiculturalism kepada anak-anaknya, karena pas sudah besar mereka jadi terbiasa dengan perbedaan.
    saya suka sedih liat sekolah yang kadang pure mengejar kepandaian akademis tanpa membekali anak-anak didiknya dengan pendidikan softskill yang memadai, but this one is good!

    BalasHapus
  9. Bagus mbak sekolahnya. Banyak kegiatan positif nya buat kecerdasan dan motorik anak...
    Kelebihan sekolah swasta ya gitu ya..ada rupa ada harga...

    BalasHapus
  10. Wah, seru ya acaranya. Apalagi sekolahnya multi kultural begitu salut mbak. Aku pengin juga ngajar di sekolah kayak gitu. Asyik kayaknya. Kalo sekolah swasta biasanya lebih dominan ke suatu agama tertentu atau etnis tertentu. Terus Kalo pun ada campuran ya seperti yang disebut mbak Meriska Putri W, biasanya isinya anak nakal atau buangan. Top deh sekolahnya

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar dengan sopan ya. Jangan lupa follow ig/twitter juga di @meifariwis

Back to Top